Nasional

Cara Memotivasi Siswa Yang Mengalami Kesulitan Belajar

cara memotivasi siswa yang mengalami kesulitan belajar

Berikut ini kami motivasipelajardotcom mencoba berbagi tentang cara memotivasi siswa yang mengalami kesulitan belajar

Sebelum melakukan penyelesain masalah ada beiknya anda cermati dulu tahap –tahap yang harus dilakukan cara memotivasi siswa yang mengalami kesulitan belajar

Belajar adalah suatu proses penyesuaian yang berjalan secara terus menerus dalam hidup setiap manusia, termasuk merupakan suatu proses pergantian yang menyangkut tingkah laku atau kejiwaan. Jadi dapat disimpulkan proses belajar adalah sebagai tahapan pergantian tingkah laku , penyederhanaan dan motorik  yang berjalan didalam diri pelajar kita. Selanjutnya akan memperoleh kemajuan pola dari sebelumnya.

Belajar adalah kesibukan yang berproses dan merupakan unsur yang  sangat mendasar didalam penyelenggaraan tiap tiap tipe dan jenjang pendidikan. Sehingga para ahlipun sering berbeda pendapat dikarenakan prespektifnya berbeda pula.

Belajar termasuk memainkan peran penting didalam menjaga kehidupan sekelompok umat manusia di tengah-tengah kompetisi yang semakin ketat di antara bangsa-bangsa lainnya yang lebih dahulu maju karena belajar.

Di bawah ini bakal dikemukakan definisi belajar menurut sebagian ahli, di antaranya :

  • Skinner didalam Barlow (1985) didalam bukunya Educational Psychology : The Teaching Learning Process, belajar adalah suatu proses adaptasi yang berjalan secara progressif.
  • Chaplin (1972) didalam Dictionary Psychology menghambat belajar bersama 2 macam :
  • Belajar adalah perolehan pergantian tingkah laku yang relative menetap sebagai akibat berasal dari latihan dan pengalaman.
  • Belajar adalah proses beroleh respons-respons sebagai akibat ada latihan khusus.
  • Hintzman (1987) didalam bukunya The Psychology of Learning and Memory berpendapat bahwa belajar adalah suatu pergantian yang berjalan terhadap diri organisme, manusia atau hewan disebabkan oleh pengalaman yang dapat pengaruhi tingkah laku organisme tersebut.
  • Wittig (1981) didalam bukunya Psychology of Learning belajar adalah pergantian yang relative menetap yang berjalan didalam segala macam / keseluruhan tingkah laku suatu organisme sebagai suatu hasil.
  • Reber (1989) didalam Dictionary of Psychology. Menurutnya ada 2 definisi perihal belajar, yaitu :
  • Belajar adalah proses beroleh pengetahuan
  • Belajar adalah suatu pergantian kebolehan bereaksi yang relative langgeng sebagai hasil latihan yang diperkuat.

Dengan demikian dapat dipahami bahwa proses belajar meliputi :

  1. Perubahan yang secara lazim menetap (relatively permanent)
  2. Kemampuan bereaksi (response potentiality)
  3. Dapat diperkuat (Reinforced)
  4. Melalui praktik dan latihan (Practice)

Cara Memotivasi Siswa Yang Mengalami Kesulitan Belajar

Raudhatul Athfal (RA) dan Taman Kanak-kanak (TK) sebagai lembaga pendidikan awal sebelum saat memasuki lembaga pendidikan formal adalah penunjang bagi terlaksananya pendidikan dasar. Pelaksanaan perlu belajar Pendidikan basic 9 tahun udah dicanangkan pemerintah sejak lama, cocok bersama amanat UUD 1945 alinea empat yaitu : “Mencerdaskan kehidupan bangsa” dan pasal 31 UUD 1945 hasil amandemen yang perlihatkan sebagai selanjutnya :

  1. Setiap warga negara berhak mendapat pengajaran.
  2. Setiap warga negara perlu ikuti pendidikan basic dan pemerintah perlu membiayainya.
  3. Pemerintah berupaya dan menyelenggarakan satu proses pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketaqwaan dan juga akhlak mulia salam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur bersama undang-undang.
  4. Negara memprioritasakan anggaran pendidikan minimal dua puluh prosen berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara dan juga berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah untuk mencukupi keperluan penyelenggaraan pendidikan nasional.
  5. Pemerintah memajukan pengetahuan pengetahuan dan teknologi bersama menghormati tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban dan juga kesejahteraan umat manusia.

(Hasil Amandemen 1999-2002 UUD 1945 : 23)

Proses pembelajaran merupakan suatu proses yang butuh perhatian khusus, keuletan, keteguhan, ketekunan, kerajinan dan kedisiplinan. Oleh karena itu sehingga proses pembelajaran yang diadakan berdayaguna dan berhasil guna, maka proses pembelajaran selanjutnya terlampau perlu dikerjakan bersama baik dan berdisiplin tinggi. Disiplin merupakan tidak benar satu faktor penunjang kesuksesan pembelajaran dan perihal ini perlu dikerjakan oleh seluruh warga yang terlibat didalam sebuah lembaga yang melaksanakan proses pendidikan.

Harapan yang tak pernah sirna dan senantiasa dituntut oleh guru adalah bagaimana bahan pelajaran itu yang disampaikan guru dapat disukai anak secara tuntas. Hal ini merupakan masalah yang memadai rumit dirasakan oleh guru, di mana anak mempunyai kepribadian yang berbagai ragam, ciri khas individu merupakan keunikannya. Mereka termasuk makhluk sosial bersama latar belakang yang berlainan.

Pada masa pertumbuhan anak-anak usia dini merupakan masa pertumbuhan yang positif di mana lingkungan keluarga maupun penduduk di sekitarnya terlampau mendukungnya. Kehidupan sosialnya tumbuh dan diperkaya bersama kebolehan bekerja serupa termasuk didalam perihal beradu dan kehidupan group sebaya. Dalam bergaul, bekerja serupa dan kesibukan bersama tidak membedakan jenis. Yang menjadi basic adalah perhatian dan pengalaman yang sama.

Lingkungan keluarga sangatlah menentukan kesuksesan belajar. Status ekonomi, standing sosial dan lingkungan keluarga ikut berperan didalam kesuksesan proses belajar. Suasana keluarga yang tenteram bakal menciptakan keharmonisan keluarga. Maka bersama keharmonisan ini anak condong lebih giat didalam belajar, tidak cuman itu peran penduduk pun terlampau pengaruhi didalam kesibukan belajar. Hal-hal yang menyimpang berasal dari lingkungan penduduk bakal gampang terserap oleh individu. Dengan perihal ini siswa bakal membandingkan pengalaman yang ia peroleh di lingkungan sekolah bersama pengalaman yang ia dapatkan di lingkungan masyarakat.

Keberhasilan belajar siswa ditentukan oleh sebagian faktor yang menopang terhadap kesuksesan proses belajar-mengajar tersebut. Faktor metode mengajar bakal perihal bersama tipe pembelajaran yang diterangkan. Pendidikan prasekolah terlampau penting artinya, bukan hanya sebagai pengisi waktu anak saja, tapi termasuk untuk buat persiapan anak di masa mendatang. Banyak para tokoh yang mengakui perihal pentingnya pendidikan prasekolah atau pendidikan anak usia dini.

Usaha-usaha ke arah selanjutnya dapat bersifat memunculkan motivasi, layaknya guru berupaya didalam memberikan pelajaran bersama tujuan yang menyadari dan menarik, menciptakan kondisi yang menyenangkan, memberikan pujian, menghormati pekerjaan siswa, dan memberikan kritik bersama bijaksana.

Cara Memotivasi Siswa Yang Mengalami Kesulitan Belajar

Salah satu cara yang dapat dikerjakan guru bagaimana cara memotivasi siswa yang mengalami kesulitan belajar dan juga untuk pembentukan karakter anak antara lain :

  1. Mengusahakan sehingga tujuan belajar menyadari dan menarik
  2. Menciptakan kondisi yang menyenangkan
  3. Mengusahakan sehingga siswa aktif belajar
  4. Menghubungkan pelajaran bersama keperluan siswa
  5. Memberi ulangan dan tugas cocok bersama kondisi siswa
  6. Memberitahukan hasil pekerjaan siswa
  7. Memberikan hadiah dan pujian
  8. Memberikan kritik bersama bijaksana

Aktivitas merupakan asas yang paling utama didalam proses belajar mengajar dan pembentukan karakter. Karena tanpa kesibukan tidak kemungkinan seseorang dapat dikatakan belajar, kesibukan tidak hanya jasmani saja melainkan termasuk kesibukan rohani. Di didalam kesibukan belajar mengajar peran motivasi baik instrinsik maupun ekstrinsik terlampau diperlukan. Motivasi bagi siswa dapat mengembangkan kesibukan dan mengarahkan dan juga pelihara ketekunan didalam melaksanakan kesibukan belajar.

Membangkitkan motivasi belajar tidaklah mudah, untuk itu guru perlu mengenal siswa dan mempunyai kesanggupan kreatif untuk menghubungkan pelajaran bersama keperluan dan minat siswa.

  1. Faktor yang Mempengaruhi Kesulitan didalam Belajar

Perubahan tingkah laku merupakan tidak benar satu tujuan belajar, tapi ada sebagian faktor yang pengaruhi kesulitan didalam belajar. Faktor yang pengaruhi kesulitan didalam belajar ada 2 macam, yaitu :

  1. Faktor Intern Belajar

Faktor intern merupakan faktor yang berasal berasal dari didalam individu sendiri, bila kematangan, kecerdasan, motivasi dan minat.

  1. Faktor Ekstern Belajar

Faktor ekstern erat kaitannya bersama faktor sosial atau lingkungan individu yang bersangkutan. Misalnya kondisi lingkungan keluarga, lingkungan penduduk , guru dan alat peraga yang dipergunakan di sekolah.

1 . Faktor Intern

Kematangan

Karena kematangan mentalnya belum matang, kami bakal susah mengajarkan konsep-konsep pengetahuan Filsafat kepada siswa sekolah dasar. Pemberian materi spesifik bakal tercapai bila cocok bersama tingkat pertumbuhan dan pertumbuhan individu atau siswa. Oleh karena itu, baik potensi jasmani maupun rohaninya perlu dipertimbangkan lagi kematangannya.

Kecerdasan (IQ)

Keberhasilan individu mempelajari berbagai pengetahuan ditentukan pula oleh tingkat kecerdasannya, misalnya, suatu pengetahuan pengetahuan udah memadai untuk dipelajari oleh seseorang individu didalam taraf usia tertentu. Tetapi kecerdasan individu yang berkaitan tidak cukup mendukung, maka pengetahuan yang udah dipelajarinya senantiasa tidak bakal dipahami olehnya. Demikian pula didalam hal-hal yang lain, layaknya didalam mengerjakan pekerjaan sehari-hari, bila memasak dan memicu mainan sederhana, didalam tingkat yang serupa tidak sepenuhnya individu dapat mengerjakannya bersama baik.

Motivasi

Motivasipun menentukan kesuksesan belajar. Motivasi merupakan motivasi untuk mengerjakan sesuatu. Dorongan selanjutnya ada yang mampir berasal dari didalam individu yang berkaitan dan ada pula yang mampir berasal dari luar individu yang bersangkutan, layaknya peran orang tua, rekan dan guru.

Minat

Minat belajar berasal dari didalam individu sendiri merupakan faktor yang terlampau dominan didalam pengaruhnya terhadap kesibukan belajar, karena jikalau berasal dari didalam diri individu tidak mempunyai sedikitpun hasrat atau minat untuk belajar, maka pelajaran yang udah diterimanya hasilnya bakal sia-sia. Otomatis pelajaran selanjutnya tidak masuk serupa sekali di didalam IQ-nya.

  1. Faktor Ekstern

Lingkungan Keluarga

Lingkungan keluarga pun terlampau menentukan kesuksesan belajar. Status ekonomi, standing sosial, formalitas dan kondisi lingkungan keluarga ikut dan juga mendorong terhadap kesuksesan belajar. Suasana keluarga yang tentram dan damai terlampau menopang keharmonisan hubungan keluarga. Hubungan orang tua dan anak bakal dirasakan saling mencermati dan melengkapi. Apabila anak menemukan kesulitan belajar, bersama bijaksana dan penuh pengertian orang tuanya memberikan pandangan dan pendapatnya terhadap penyelesaian masalah belajar anaknya.

Lingkungan Masyarakat

Peran penduduk terlampau pengaruhi individu didalam belajar. Setiap pola penduduk yang kemungkinan menyimpang bersama cara belajar di sekolah bakal cepat sekali menyerap ke diri individu, karena pengetahuan yang didapat berasal dari pengalamannya bergaul bersama penduduk bakal lebih gampang diserap oleh individu daripada pengalaman belajarnya di sekolah. Jadi peran penduduk bakal dapat pengaruhi tingkah laku individu didalam proses belajar.

Guru

Peran guru dapat pengaruhi belajar. Bisa dicermati berasal dari cara guru mengajar kepada siswa, perihal ini terlampau menentukan didalam kesuksesan belajar. Sikap dan kepribadian guru, basic pengetahuan didalam pendidikan, penguasaan teknik-teknik mengajar, dan kebolehan menyelami alam pikiran tiap tiap individu siswa merupakan perihal yang terlampau penting. Oleh karena itu, guru sebagai motivator, guru sebagai fasilitator, guru sebagai inovator, dan guru sebagai konduktor masalah-masalah individu siswa, perlu menjadi acuan sepanjang proses pendidikan berlangsung.

Bentuk Alat Pelajaran

Bentuk alat pelajaran dapat bersifat buku-bukun pelajaran, alat peraga, alat-alat tulis menulis dan sebagainya. Kesulitan untuk beroleh atau miliki alat-alat pelajaran secara segera maupun tidak segera dapat pengaruhi kesuksesan didalam belajar siswa. Siswa bakal condong berhasil bila dibantu oleh alat-alat pelajaran yang memadai. Alat pelajaran selanjutnya bakal menopang proses pemahaman anak. Misalnya, lewat praktik sederhana berasal dari materi pelajaran yang udah mereka pelajari.

Kesempatan Belajar

Kesempatan belajar merupakan faktor yang sedang diupayakan Pemerintah lewat Wajib Belajar (Wajar) Pendidikan Dasar 9 Tahun yang merasa dicanangkan tahun pelajaran 1994/1995. Pencanangan Wajar selanjutnya merupakan alternatif dukungan kesempatan kepada para siswa, khususnya bagi mereka yang orang tuanya berekonomi tidak cukup mampu.

Seorang anak yang tidak miliki kesempatan belajar karena secara ekonomis tidak cukup mampu, tapi di sisi lain anak selanjutnya berintelegensi tinggi, maka ia bakal menemukan hambatan didalam penyaluran aspirasi cita-citanya secara utuh. Walaupun motivasi begitu tinggi untuk capai tujuan yang diinginkannya, tapi bila tidak dapat dukungan oleh ekonomi yang cukup, maka bakal menemukan kendala yang relatif serius. Begitu pula sebaliknya, seorang anak berasal dari keluarga yang mampu, miliki intelegensi yang tinggi, bersekolah di sekolah favourit, dan ditunjang oleh fasilitas dan prasarana yang serba ada, belum pasti dapat belajar bersama baik, karena tetap ada sebagian faktor yang dapat pengaruhi anak selanjutnya untuk belajar bersama baik, layaknya motivasi belajar, keharmonisan lingkungan keluarga, jarak berasal dari tempat tinggal ke sekolah yang memadai jauh sehingga melelahkan, perhatian spesifik berasal dari guru kelas, dan juga hal-hal lain yang terlalu mungkin ketidak berhasilan siswa tersebut.

Cara Memotivasi Siswa Yang Mengalami Kesulitan Belajar

Fenomena lain kesulitan belajar seorang siswa umumnya terlihat menyadari berasal dari menurunnya kinerja akademik atau prestasi belajarnya. Namun, kesulitan belajar termasuk dapat dibuktikan bersama munculnya kelainan tingkah laku siswa layaknya kesukaan berteriak-teriak di didalam kelas, mengusik teman, berkelahi, sering tidak masuk sekolah dan sering minggat berasal dari sekolah. Hal ini dapat disebabkan oleh berbagai hal, layaknya :

1) Rendahnya kebolehan intelektual anak

2) Gangguan perasaan / emosi

3) Kurangnya motivasi untuk belajar

4) Kurang matangnya anak untuk belajar

5) Usia yang terlampau muda

6) Latar belakang sosial yang tidak menunjang

7) Kebiasaan belajar yang tidak cukup baik

8) Kemampuan mengingat yang rendah

9) Terganggunya alat-alat indera

10) Proses belajar mengajar yang tidak sesuai

11) Tidak ada dukungan berasal dari lingkungan belajar.

  1. Cara Mengatasi Kesulitan Belajar

Tugas pendidik atau guru adalah buat persiapan generasi bangsa sehingga dapat merintis kehidupan bersama sebaik-baiknya dikemudian hari sebagai khalifah Allah di bumi. Dalam mobilisasi tugas ini pendidikan berupaya mengembangkan potensi (fitrah) sebagai anugrah Allah yang tersimpan didalam diri anak, baik yang bersifat jasmaniah maupun ruhaniah, lewat pembelajaran sebuah pengetahuan, kecakapan, dan pengalaman bermanfaat bagi hidupnya. Dengan demikian pendidikan yang terhadap hakekatnya adalah untuk memanusiawikan manusia miliki makna penting bagi kehidupan anak. Hanya pendidikan yang efisien yang dapat meningkatkan kualitas hidup dan mengantarkan anak survive didalam hidupnya.

Secara lazim guru artinya orang yang dapat menjadi anutan dan juga menjadikan jalan yang baik demi kemajuan. Sejak berlakunya kurikulum 1995, pengertian guru mengalami penyempurnaan, menurut kurikulum 1995 ialah “Guru adalah perencana dan pelaksana berasal dari proses pendidikan untuk capai tujuan yang udah ditetapkan”. Guru adalah pihak utama yang segera berhubungan bersama anak didalam upaya proses pembelajaran, peran guru itu tidak terlepas berasal dari keberadaan kurikulum.

Peranan guru terlampau penting didalam pelaksanaan proses pembelajaran, tidak cuman sebagai nara sumber guru termasuk merupakan pembimbing dan pengayom bagi para murid yang ada didalam suatu group belajar. perihal selanjutnya cocok bersama ungkapan T. Rustandy (1996 : 71) yang menjelaskan bahwa : Guru memegang guna sentral didalam proses pembelajaran, miliki karakter dan kepribadian masing-masing yang tercermin didalam tingkah laku terhadap waktu pelaksanaan proses pembelajaran. Pola tingkah laku guru didalam proses pembelajaran umumnya ditiru oleh siswa didalam perjalanan hidup sehari-hari, baik di lingkungan keluarga ataupun masyarakat, karena tiap tiap siswa mempunyai keragaman didalam perihal kecakapan maupun kepribadian. Keragaman kecakapan dan kepribadian ini pengaruhi terhadap kondisi yang dihadapi didalam proses pembelajaran.

Tetapi menurut Brenner (1990) memang pendidikan anak prasekolah terefleksi didalam alat-alat perlengkapan dan permainan yang tersedia, cara perlakuan guru terhadap anak, adegan dan desain kelas, dan juga bangunan fisik lainnya yang disajikan untuk anak. (M. Solehuddin, 1997 : 55).

Adapun persyaratan bagi guru terhadap umumnya, termasuk di dalamnya guru agama, udah tercantum didalam Undang-Undang Pendidikan dan Pengajaran Nomor 4 Tahun 1950 Bab X Pasal 15 yang berbunyi :

“Syarat utama menjadi guru tidak cuman ijazah dan persyaratan lain perihal kesehatan jasmani dan rohani, ialah sifat-sifat yang perlu untuk dapat memberikan pengajaran”. (Zuhairini, 1983 :35).

Beberapa cara mengatasi kesulitan didalam belajar dapat dikerjakan bersama cara belajar yang efisien dan efisien. Cara demikian merupakan problematika yang perlu beroleh perhatian memadai serius. Orang tua dan Guru Kelas sering kali memberikan saran-saran kepada siswa sehingga rajin belajar karena rajin adalah pangkal cerdas. Orang cerdas bakal dapat mengembangkan dirinya cocok bersama pertumbuhan zaman yang serba kompleks.

Berikut ini sebagian alternatif didalam kesulitan belajar :

  1. Observasi Kelas

Pada step ini observasi kelas dapat menopang kurangi kesulitan didalam tingkat pelajaran, bila memeriksa kondisi secara fisik bagaimana kondisi kelas didalam kesibukan belajar, memadai nyaman, segar, sehat dan hidup atau tidak. Kalau kondisi kelas terlampau nyaman, tenang dan sehat, maka itu seluruh dapat memotivasi siswa untuk belajar lebih motivasi lagi.

  1. Pemeriksaan Alat Indera

Dalam perihal ini dapat difokuskan terhadap tingkat kesehatan siswa spesifik perihal alat indera. Diupayakan minimal didalam sebulan sekali pihak sekolah melaksanakan tes atau pengecekan kesehatan di Puskesmas / Dokter, karena tingkat kesehatan yang baik dapat menopang pelajaran yang baik pula. Maka berasal dari itu, betapa pentingnya alat indera selanjutnya dapat menstimulasikan bahan pelajaran segera ke diri individu.

  1. Teknik Main Peran

Disini, seorang guru dapat mampir ke tempat tinggal seorang murid. Di sana seorang guru dapat leluasa melihat, mencermati murid selanjutnya seluruh yang ada di sekitarnya. Di sini guru dapat segera melaksanakan wawancara bersama orang tuanya perihal kepribadian anak, keluarga, ekonomi, pekerjaan dan lain-lain. Selain itu juga, guru dapat menyaksikan kondisi rumah, kondisi dan situasinya bersama penduduk secara langsung.

  1. Tes Diagnostik Kecakapan/Tes IQ/Psikotes

Dalam perihal ini seorang guru dapat menyadari sejauh mana IQ seseorang dapat dicermati bersama cara menjawab pertanyaan-pertanyaan praktis dan sederhana. Dengan latihan psikotes dapat diambil alih sebagian nilai kepribadian siswa secara praktis berasal dari faktor dasar, logika dan privasi seseorang.

  1. Menyusun Program Perbaikan

Penyusunan program hendaklah dimulai berasal dari faktor pengajar dulu. Seorang pengajar perlu menjadi seorang yang konsevator, transmitor, transformator, dan organisator. Selanjutnya lengkapilah sebagian alat peraga atau alat yang lainnya yang menopang pengajaran lebih baik, karena bersama kelengkapan-kelengkapan yang lebih kompleks, motivasi belajarpun bakal bersama gampang didapat oleh para siswa.

Hendaklah seluruh itu disadari sepenuhnya oleh para pengajar sehingga tidak ada lagi kendala dan hambatan yang dapat pengaruhi kesibukan belajar. Selain itu tingkat ketekunan yang diterapkan di suatu sekolah dapat menopang kebaikan didalam proses belajar. Disiplin didalam belajar bakal dapat memotivasi kesibukan belajar siswa.

cara memotivasi siswa yang mengalami kesulitan belajar

Alternatif lain yang dapat diambil alih guru didalam mengatasi kesulitan belajar siswanya. Akan tapi sebelum saat pilihan spesifik diambil, guru terlampau diinginkan untuk khususnya dahulu melaksanakan sebagian cara selanjutnya ini :

  1. Menganalisis hasil diagnosis, yaitu menelaah bagian-bagian masalah dan hubungan antar anggota selanjutnya untuk beroleh pengertian yang benar perihal kesulitan belajar yang dihadapi siswa.
  2. Mengidentifikasi dan menentukan bidang kecakapan spesifik yang butuh ada perbaikan.
  3. Menyusun program perbaikan.

Dalam menyusun program pengajaran perbaikan diperlukan ada ketentuan sebagai selanjutnya :

  1. Tujuan pengajaran remedial

Contoh berasal dari tujuan pengajaran remedial yaitu siswa dapat menyadari kata “tinggi”, “pendek” dan “gemuk” didalam berbagai konteks kalimat.

  1. Materi pengajaran remedial

Contoh materi pengajaran remedial yaitu bersama cara lebih spesifik didalam mengembangkan kalimat-kalimat yang pakai kata-kata layaknya di atas.

  1. Metode pengajaran remedial

Contoh metode pengajaran remedial yaitu bersama cara siswa isikan dan mempelajari hal-hal yang dialami oleh siswa selanjutnya didalam hadapi kesulitan belajar.

  1. Alokasi waktu

Contoh alokasi waktu remedial bila waktunya Cuma 60 menit.

  1. Teknik evaluasi pengajaran remedial

Contoh tehnik evaluasi pengajaran remedial yaitu bersama pakai tes isian yang terdiri atas kalimat-kalimat yang perlu disempurnakan, contohnya bersama pakai kata tinggi, kata pendek, dan kata gemuk.

Selanjutnya untuk memperluas wawasan pengetahuan perihal alternatif-alternatif atau cara-cara pemecahan masalah kesulitan belajar siswa, guru terlampau direkomendasi mempelajari buku-buku spesifik perihal bimbingan dan penyuluhan. Selain itu, guru termasuk terlampau direkomendasi untuk pertimbangkan pemakaian model-model mengajar spesifik yang dianggap cocok sebagai alternatif lain atau pendukung cara memecahkan masalah kesulitan belajar siswa.

Keaktifan siswa tidak hanya dituntut berasal dari faktor fisik, tapi termasuk berasal dari faktor kejiwaan. Bila hanya fisik anak yang aktif, tapi fikiran dan mentalnya tidak cukup aktif, maka kemungkinan besar tujuan pembelajaran tidak tercapai. Ini serupa halnya bersama siswa tidak belajar, karena siswa tidak merasakan pergantian di didalam dirinya, padahal terhadap hakekatnya belajar adalah “perubahan” yang berjalan didalam diri seseorang yang udah berakhirnya melaksanakan kesibukan belajar.

Penerapan sikap dan pembentukan kepribadian terhadap diri siswa perlu dioptimalkan, mengingat kesuksesan suatu proses pembelajaran bukan diukur oleh ada menambahkan dan pergantian pengetahuan dan juga keterampilan saja, tapi nilai sikap perlu terakomodasi, karena bersama pergantian sikap bakal menentukan terhadap pergantian kognitif ataupun psikomotor.

Sama halnya bersama belajar, mengajar pun terhadap hakekatnya adalah suatu proses, yaitu proses mengatur, mengorganisasi lingkungan yang ada di sekitar siswa, sehingga dapat menumbuhkan dan mendorong siswa melaksanakan proses belajar. Pada step berikutnya mengjar adalah proses memberikan bimbingan, dukungan kepada siswa didalam melaksanakan proses belajar.

Proses belajar mengajar terhadap hakikatnya adalah hubungan antara guru bersama peserta didik dan antara peserta didik bersama peserta didik lainnya, dan juga bersama lingkungannya sehingga berjalan pergantian tingkah laku terhadap diri peserta didik. Agar proses belajar mengajar selanjutnya berjalan secara efisien tidak cuman diperlukan alat peraga sebagai pelengkap yang digunakan guru didalam berinteraksi bersama peserta didik diperlukan pula keputusan dan tata tertata yang baku sehingga didalam pelaksanaannya tertata dan tidak menyimpang.

Dari hakikat proses belajar mengajar, pembelajaran merupakan proses komunikasi, maka pembelajaran seyogyanya tidak atraktip melainkan perlu demokrasi. Siswa perlu menjadi subjek belajar, bukan hanya menjadi pendengar setia atau pencatat yang rajin, tapi siswa perlu aktif dan kreatif didalam berbagai pemecahan masalah. Dengan demikian guru perlu dapat menentukan dan menentukan pendekatan dan metode yang sesuai bersama kemampuannya, kekhasan bahan pelajaran, kondisi fasilitas dan kondisi siswa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *