Nasional

Kemerdekaan Dalam Beragama

Kemerdekaan Dalam Beragama

Kemerdekaan dalam beragama .Merdeka membawa arti kebebasan dari belenggu atau kekangan, aturan, dan kekuasaan berasal dari individu atau kelompok tertentu. Merdeka merupakan kebebasan bagi setiap individu untuk berbuat segala suatu hal cocok kehendaknya, tanpa paksaan berasal dari orang lain.

Dan bagi sebuah negara, merdeka artinya bebas berasal dari penjajahan secara fisik yang sudah bertahun-tahun membelenggunya dan memicu tidak mampu sesuaikan negaranya sendiri.

Kemerdekaan didalam beragama membawa arti kebebasan berasal dari arti kemerdekaan Indonesia setiap manusia atau individu untuk memilih agama dan kepercayaannya.

Setelah itu, individu termasuk bebas melaksanakan agama dan kepercayaan yang dipilihnya dengan tidak dipaksa oleh siapapun. Yang cuma mampu dikerjakan adalah menyeru dengan langkah yang baik, dikarenakan tiap agama termasuk membawa misi dakwah atau mengajak.

Kemerdekaan Dalam Beragama

Perwujudan Kemerdekaan Dalam Pancasila dan UUD 1945

Seperti sudah kami ketahui bahwa Bangsa Indonesia adalah bangsa yang berpedoman pada Pancasila dan melaksanakan nilai-nilai luhur yang ada di dalamnya. Selain itu, bangsa ini memegang teguh UUD 1945 (hasil amandemen) sebagai konstitusi yang merupakan peraturan perundang-undangan tertinggi di Indonesia. Oleh dikarenakan itu, peraturan Kemerdekaan Dalam Beragama cocok dengan Pancasila dan UUD 1945, yaitu:

Sila pertama Pancasila yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa. Sesuai nilai-nilai luhur Pancasila  yang terdapat di dalamnya dan diimplemetasikan didalam kehidupan sehari-hari bahwa setiap individu Bangsa Indonesia adalah orang yang beragama dan berkepercayaan pada Tuhan Yang Maha Esa.

Pokok anggapan didalam Pembukaan UUD 1945 alinea ketiga yang disebutkan pada awal kalimatnya, “ Atas berkat rahmat Allah…”. Artinya sejak awal sudah disebutkan bahwa Bangsa Indonesia adalah negara yang beragama dan berkepecayaan pada Tuhan Yang Maha Esa. Selain itu, pada alinea keempat yang mencantumkan Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai sila pertama sila Pancasila kembali meyakinkan perihal tersebut.

Pasal 28 E ayat 1 dan 2 yang menanggung hak setiap warga negara untuk bebas berkeyakinan didalam agama, termasuk rubah agama yang diyakininya tanpa paksaan berasal dari siapapun.

Pasal 28 E ayat 1 menjelaskan dan meyakinkan kepada warga negara Indonesia bahwa,”Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadah menurut agamanya, memilih pendidikan dan pengajaran, memilih pekerjaan, memilih kewarganegaraan, memilih daerah tinggal di lokasi negara dan meninggalkannya, dan juga berhak untuk kembali”.Sedangkan pasal 28 E ayat 2 menyebutkan, “Setiap orang berhak atas kebebasan yakin kepercayaan, perlihatkan pikiran, dan sikap cocok hati nuraninya”.

Pasal 28 E ayat 1 UUD 1945 menjelaskan bahwa Kemerdekaan Dalam Beragama adalah hak setiap manusia Indonesia, “Hak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa, hak kemerdekaan, anggapan dan hati nurani, hak beragama, hak untuk tidka diperbudak, hak untuk dianggap sebagai spesial di hadapan hukum, dan hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut adalah hak asasi manusia yang tidak boleh dikurangi didalam kondisi apapun.”

Pasal 29 ayat 1 dan UUD 1945 apalagi meyakinkan dengan mengetahui sejak awal berdirinya negara Indonesia mengenai kemerdekaan beragama. Kemerdekaan Dalam Beragama yang tertuang didalam pasal 29, ayat 1 yaitu ‘Negara berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa” dan ayat 2,”Negara menanggung kemerdekaan masing-masing penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadah menurut agama dan kepercayaannya itu.”

Mengingat seluruh peraturan Kemerdekaan Dalam Beragama di Indonesia yang sudah begitu jelas, maka ada langkah-langkah perwujudannya, terutama berasal dari pemerintah sebagai penyelenggara negara yang dikatakan sebagai penjamin pelaksanaan seluruh hak asasi di Indonesia. Hal-hal yang diperlukan untuk perwujudannya, yaitu :

Adanya pernyataan berasal dari pemerintah pada agama-agama yang dipeluk oleh warga negaranya. Pengakuan selanjutnya merupakan pernyataan yang sama, agar perlakuannya termasuk sama pada pemeluknya. Agama yang dianggap di Indonesia yaitu Islam, Kristen, Khatolik, Hindu, dan Budha, dan juga Kepercayaan pada Tuhan Yang Maha Esa.

Tiap pemeluk agama membawa hak dan kewajiban warga negara, dan kedudukan yang sama didalam negara dan pemerintahan. Sehingga tiap warga negara apapun agamanya, seumpama diinginkan rakyat mampu duduk didalam pemerintahan dan sejalan kedudukannya didalam hukum.

Adanya jaminan kebebasan yang otonom bagi setiap individu untuk meimilih agamanya, mengubah kepercayaan agamanya, dan bebas untuk memilih dan menetapkan agama yang ia yakini.

Adanya kebebasan otonom pula bagi tiap kelompok agama dengan kepastian dan perlindungan hukum, untuk pelaksanaan kegiatan peribadatan dan kegiatan keagamaannya masing-masing.

Berdasarkan hal-hal yang sudah disebutkan di atas, maka ada lebih dari satu arti Kemerdekaan Dalam Beragama di Indonesia, dan termasuk lebih dari satu ulasan sejarah kemerdekaan Indonesia yang sudah banyak kami ketahui. Makna selanjutnya diuraikan sebagai berikut:

  • Negara Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa

Bangsa Indonesia cocok nilai-nilai luhurnya, berkeyakinan pada Ketuhanan Yang Maha Esa. Kemerdekaan bukan artinya ada individu yang boleh berkeyakinan tidak membawa agama atau tidak beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa. Keyakinan untuk tidak beragama bukan anggota berasal dari kemerdekaan beragama.

  • Kemerdekaan Memilih Agama dan Kepercayaannya

Setiap individu Bangsa Indonesia membawa hak kemerdekaan memilih agama dan kepercayaan yang diyakininya. Tidak ada paksaan berasal dari siapa saja untuk memeluk suatu agama, baik itu negara, organisasi / kelompok, guru, atau apalagi orangtua. Ini berlaku terutama pada individu yang sudah dianggap dewasa dan mampu memilih, berusia 17 th. lebih dan atau sudah kawin. Pada anak-anak tetap ikuti orangtua dan turut dengan bimbingan orangtua. Setelah anak dewasa, barulah pilihan agama cocok kepercayaan berlaku padanya.

Kemerdekaan Dalam Beragama

Kemerdekaan Dalam Beragama .Tidak diperbolehkan memaksa orang lain untuk ikuti agama yang diyakininya. Apalagi pada orang yang sudah membawa agama.

  • Kemerdekaan Menjalankan Ibadah

Kemerdekaan beragama mampu dimaknai sebagai kemerdekaan menggerakkan ibadah cocok syariat atau peraturan agama dan kepercayaan yang diyakini setia orang masing-masing.

Termasuk di dalamnya melaksanakan kegiatan atau kegiatan yang terjalin dengan agamanya masing-masing layaknya merayakan hari besar agama, mengadakan ceramah agama, dan sebagainya.

Karena jelas, yang dimaksud adalah kemerdekaan menggerakkan ibadah cocok syariat dan peraturan agama amsing-masing, tidak diperkenankan menggerakkan ibadah atau kegiatan yang bertentangan dengan kepercayaan agamanya, tidak diperkenankan melecehkan dan beri tambahan agamanya sendiri dengan kepercayaan baru. Tidak boleh beri tambahan peribadatan yang menyimpang dengan ajaran dan kepercayaan agama yang dianutnya.

  • Kebebasan untuk Berdakwah

Setiap agama sudah pasti membawa misi dakwah, yaitu mengajak orang lain untuk mengetahui ajarannya dan menyerukan agar orang lain berbuat kebaikan. Dalam negara Indonesia kebebasan ini termasuk kemerdekaan didalam beragama dan didalam rangka kebebasan untuk mengeluarkan pendapat, anggapan secara lisan dan tulisan. Namun kebebasan dan kemerdekaan selanjutnya mesti dimaknai tidak memaksa orang lain di luar agamanya untuk mengikuti. Tidak memaksa orang lain untuk beragama sama dengannya. Apalagi orang selanjutnya sudah miliki agamanya sendiri.

  • Kebebasan untuk Berpindah Agama

Sesuai dengan pasal 28 I UUD 1945, seseorang dengan tanpa paksaan dan tekanan berasal dari pihak manapun bebas memilih agama dan keyakinannya. Sehingga seseorang termasuk berhak nampak berasal dari agamanya untuk jadi penganut / pemeluk agama dan kepercayaan lain. Sama halnya dengan kebebasan memilih kewarganegaraan. Ketika dirasa agama yang baru dianut tidak cocok dengan hati nuraninya, maka seseorang termasuk bebas untuk kembali ke agamanya semula.

  • Kemerdekaan Beragama didalam Kerukunan

Indonesia merupakan negara yang penduduknya beranekaragam, jadi berasal dari budaya, tradisi istiadat, warna kulit, suku bangsa, dan rasnya. Oleh dikarenakan itu kemerdekaan beragama mesti termasuk pada kerukunan beragama. Kerukunan ini dibagi jadi tiga, yaitu:

Kerukunan antar umat yang membawa agama sama

Karena Indonesia beranekaragam, maka kerukunan antar umat yang membawa agama sama mesti dijunjung tinggi. Meskipun satu agama, perbedaan budaya mampu memicu bermacam tradisi. Dan ini mesti saling dihargai, selama tidak menyimpang berasal dari ajaran agama yang benar.

Contohnya didalam Islam, mengakui Rasulullah Muhammad SAW sebagai nabi dan rasul terakhir. Dalam perjalanannya dikenal adanya peringatan Maulid Nabi, atau peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Ada umat yang merayakannya, ada umat yang tidak berkenan merayakannya. Ada upacara peringatan Maulid secara tradisional di daerah-daerah tertentu, seumpama ngangsur pusaka di Garut, Jawa Barat, Kirab Ampyang di Kudus, Jawa Tengah, dan sebagainya. Semua mesti dihargai sebagai anggota berasal dari budaya Indonesia dengan membina kerukunan. Dan tidak dengan menyalahkan satu sama lain sebagai wujud Kemerdekaan Dalam Beragama

Kerukunan antar umat yang berlainan agama

Kerukunan antar umat yang berlainan agama termasuk termasuk didalam arti kemerdekaan beragama dan berkepercayaan. Tanpa kerukunan kebebasan dan kemerdekaan tidak mampu terlaksana. Dan kerukunan dan nilai-nilai pancasila didalam penyelenggaraan Pemerintahan ini dibina dengan sikap saling menjunjung dan saling menjunjung masing-masing agama. Tidak saling mengejek dan melecehkan agama yang dianut orang lain. Meskipun ada lebih dari satu ajaran yang berbeda, sampaikan dengan baik dan tidak melecehkan. Jika perihal ini tidak terlaksana, maka mampu dipastikan kemerdekaan beragama gagal terlaksana dan Indonesia jadi negeri yang tidak aman. Pembangunan tidak mampu dengan mudah dan lancar.

Kerukunan antar umat beragama dengan pemerintah

Pemerintah adalah penyelenggara negara yang bermanfaat sebagai penjamin terlaksananya kemerdekaan beragama dan berkepercayaan. Untuk itu, kerukunan antar umat beragama dengan pemerintah mutlak diperlukan. Sebagai wujudnya, pemerintah tidak boleh membedakan perlakuan pada agama tertentu. Memberikan hak dan kewajiban yang sama bagi seluruh pemeluk agama. Dan yang paling mutlak tidak ada sikap saling mencurigai pada pemerintah dengan umat beragama. Bersikap positif dan percaya bahwa apa yang dikerjakan pemerintah adalah untuk keperluan dengan dan pemerintah mesti mewujudkannya. Pemerintah termasuk bersikap positif pada seluruh kegiatan umat beragama sebagai anggota berasal dari pelaksanaan ibadah dan kegiatan agama yang tidak dapat menyebabkan kerusakan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Memahami dan melaksanakan kemerdekaan beragama dan berkepercayaan sebenarnya bukanlah suatu hal yang mudah. Namun, dengan mengetahuinya paling tidak kami seluruh dapat berupaya untuk menjalankannya demi keutuhan bangsa dan tercapainya seluruh tujuan nasional Bangsa Indonesia. Semoga artikel Kemerdekaan Dalam Beragama ini bermanfaat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *