teknik workshop

4 Gaya Kepemimpinan dalam Organisasi

gaya Kepemimpinan dalam Organisasi

4 Gaya Kepemimpinan dalam Organisasi

Gaya Kepemimpinan dalam Organisasi Istilah kepemimpinan telah sering kita dengar, baik dalam pendidikan maupun kehidupan bermasyarakat.

Jika dikumpulkan, ada minimal 60 definisi kepemimpinan di dalam beraneka literatur.

Dari sekian banyak definisi yang ada pada intinya berpikiran bahwa di dalam kepemimpinan selamanya terdapat tiga unsur yang saling mempengaruhi:

  1. pemimpin yang menggerakkan peran kepemimpinan;
  2. pengikut yaitu sekelompok orang yang mengikuti
  3. terdapatnya suasana yang terlalu mungkin terjadinya sistem pertalian antara pemimpin dan orang yang dipimpinnya di dalam rangka capai suatu tujuan.

Adapun kepemimpinan spiritual (spiritual leadership), menurut Dr. Tobroni di dalam “The Spiritual Leadership,…” (2005), adalah kepemimpinan yang membawa dimensi keduniawian kepada dimensi keilahian.

Tuhan adalah pemimpin sejati yang mengilhami, mempengaruhi, melayani dan menggerakkan hati nurani hamba-Nya bersama amat bijaksana melalui pendekatan etis dan keteladanan.

Karena itu kepemimpinan spiritual disebut termasuk kepemimpinan yang berdasarkan etika religius dan kecerdasan spiritual, mendasarkan pada iman dan hati nurani.

Ada dua tipe kepemimpinan spiritual yaitu kepemimpinan spiritual substantif dan kepemimpinan spiritual instrumental.

  1. kepemimpinan spiritual substantif,

yaitu kepemimpinan spiritual yang lahir dari penghayatan spiritual sang pemimpin dan kedekatan pemimpin bersama realitas Ilahi dan dunia Ruh.

Model kepemimpinan spiritualnya nampak bersama sendirinya dan menyatu di dalam kepribadian dan tingkah laku kesehariannya dan sebab itu bersifat tetap.

2. kepemimpinan spiritual instrumental

yaitu kepemimpinan spiritual yang dipelajari dan lantas dijadikan model kepemimpinannya.

Gaya kepemimpinan spiritualnya nampak sebab tuntutan eksternal dan jadi alat atau sarana untuk mengefekifkan tingkah laku kepemimpinannya.

Gaya kepemimpinan spiritual instrumental bersifat tidak abadi dan seumpama konteks kepemimpinannya berubah, maka model kepemimpinannya sanggup jadi berubah pula.

Gaya kepemimpinan ini sanggup termasuk nampak sebagai salah satu cara untuk menangani problem baik problem internal sang pemimpin itu sendiri maupun problem eksternal.

Gaya kepemimpinan spiritual tidak cuma cocok diterapkan pada nobel industry (industri pengemban misi mulia), seperti lembaga-lembaga sosial non profit: sekolah, tempat tinggal sakit, masjid, LSM, ormas, dsb., tapi termasuk cocok untuk diterapkan di lembaga-lembaga bisnis.

Belakangan ini banyak pakar menulis, bahwa faktor spiritual jadi penyumbang terbesar kesuksesan seseorang di dalam hidupnya, termasuk di dalamnya kecerdasan spiritual (SQ),
yang menurut Danah Zohar dan Ian Marshall (SQ: Spiritual Intelligence, the Ultimate Intelligence, 2000), punyai andil 80 prosen di dalam kesuksesan karir seseorang; dan kepemimpinan spiritual,
yang menurut hasil penelitian Ian Percy (Going Deep: Exploring Spirituality in Life and Leadership, 2003), para direktur dan Chief of Excutive Officer (CEO) yang efektif di dalam hidup dan kepemimpinannya punyai spiritualitas yang tinggi dan menerapkan model kepemimpinan spiritual.

gaya Kepemimpinan dalam Organisasi

Gaya kepemimpinan spiritual di dalam membangun budaya organisasi sanggup ditunaikan bersama empat langkah:

4 Gaya Kepemimpinan dalam Organisasi

(1) tekad yang suci, yaitu membangun kualitas batin yang sempurna di dalam memimpin. Dengan kualitas batin yang prima, komunitas organisasi akan punyai perhatian penuh dan istiqomah di dalam berkhidmat pada tugas masing-masing.

(2) mengembangkan budaya kualitas bersama cara membangun keyakinan inti (core believe) dan nilai inti (core values) kepada komunitas organisasi bahwa hidup dan kerja hakekatnya adalah idadah kepada Allah, maka mesti ditunaikan bersama sebaik-baiknya (ahsanu ‘amala).

(3) mengembangkan persaudaraan (ukhhuwah) sesama bagian komunitas, supaya kerjasama, sinergi antar individu dan kelompok/unit di dalam organisasi sanggup tercipta untuk memberdayakan potensi dan kemampuan secara maksimal.

(4) mengembangkan tingkah laku etis (akhlaqul karimah) di dalam bekerja melalui pembudayaan rasa syukur dan sabar di dalam mengemban amanah.

Untuk mengefektifkan sistem organisasi sanggup ditunaikan bersama pendekatan etis, pemakai model kepemimpinan spiritual mesti menjadi:

(1) murabbi (penggembala) di dalam mengembangkan kepemimpinan dan tanggung jawab

(2) penjernih dan pengilham di dalam sistem komunikasi dan inovasi

(3) ta’mir (pemakmur) di dalam mensejahterakan bawahannya

(4) enterpreneur di dalam kiat-kiatnya mengembangkan usaha

(5) pemberdaya di dalam mengembangkan kepemimpinan bagi bawahannya dan mengkader pemimpin baru yang lebih baik.

Gaya kepemimpinan spiritual tidak apriori dan menampik model kepemimpinan lainnya seperti kepemimpinan transaksional,
kepemimpinan transformasional serta gaya Kepemimpinan dalam Organisasi melainkan bersifat menyempurnakan.

Penyempurnaan itu terlebih atas tiga hal

  1. landasan epistemologi (teori ilmiah) kepemimpinan bersumber dari nilai-nilai etis (etika riligius) yang diderivasi dari nilai-nilai ketuhanan. Dengan kata lain,
    kepemimpinan spiritual adalah kepemimpinan di dalam nama Allah (bismillah). Maka rujukan etik sebagai landasan tingkah laku kepemimpinannya bersumber dari sifat-sifat Allah, seperti Ar-Rahman (Maha Pengasih), Ar-Rahim (Maha Penyayang), maka seorang pemimpin mesti menebarkan pembawaan kasih dan sayang kepada bawahannya,
  2. landasan ontologis (hakekat apa yang dikaji) adalah bahwa kepemimpinan itu amanah dari Allah dan akan dipertanggung jawabkan di hadapan-Nya kelak.
  3. landasan aksiologis (segi kemanfaatan) adalah bahwa kepemimpinan itu untuk amar ma’ruf nahi munkar bersama kekuasaan (man raa minkum munkaran al yughayyirhu biyadih),
    memberdayakan (empowering) umat yang dipimpin, mencerahkan asumsi (aqlus-salim), bersihkan hati (qalbun-salim), pemenangan hati nurani (qalbun-munib), dan pembebasan jiwa (nafsul-muthmainnah) menuju kehidupan yang lebih baik dan capai ridha Allah SWT

sudah tau kan bagaimana Gaya Kepemimpinan dalam Organisasi baik secara spiritual substantif, maupun spiritual instrumental ,semoga bisa menambah wawasan pengetahuan kita .semoga bermanfaat

Please ShareShare on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *